Rabu, 25 Maret 2015

PENGARUH KUALITAS PRODUK, HARGA, DAN CITRA MEREK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN TAS MEREK KESUKAAN

                                                          BAB I
                                                PENDAHULUAN

1.1  latar belakang

Pada masa ini, industri sedang berkembang pesat. Salah satu sektor industri yang mengalami persaingan ketat adalah industri tas. Indonesia merupakan pasar yang potensial untuk produk-produk tas baik dari dalam negri maupun luar negri. Tas merupakan suatu wadah atau tempat yang digunakan untuk meletakkan barang agar bisa dibawa kemanapun kita pergi.
Tas sudah ada pada jaman prasejarah, ini terbukti dengan ada tas yang terbuat dari kulit. Tas dari kulit ini biasanya digunakan untuk membawa makanan atau benda yang bersifat ringan. Ada lagi tas yang terbuat dari kayu yang digunakan untuk membawa batu pada saat itu. Tas merupakan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari ke sekolah, olahraga/mendaki sebuah gunung, maupun sekedar hangout  bersama teman-teman, sudah dipastikan kita pasti membawa tas. Tas adalah salah satu barang terpenting dalam kehidupan.
Masyarakat di Indonesia sendiri mempunyai hobi mendaki sebuah gunung dikarnakan letak geografisnya yang dikelilingi pegunungaan sangat tepat untuk mendaki sebuah gunung dan mendaki sebuah gunung seperti trend atau gaya hidup yang baik untuk pria dan wanita. Sebuah tas sangat di perlukan untuk membawa perlengkapan yang dibutuhkan. Hal ini menyebabkan produsen-produsen tas harus mampu bersaing dalam memperebutkan pangsa pasar. Persaingan industri tas cukup ketat disebabkan oleh banyaknya produk tas impor yang memasuki pasar. Salah satu kekuatan dari sebuah poduk didalam persaingan adalah kualitas produk, harga, dan citra merek, karena kualitas produk, harga, dan citra merek adalah daya pembeda dengan produk lain.

Menurut  Kotler (2005:49), “Kualitas produk adalah keseluruhan ciri serta dari suatu produk atau pelayanan pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan/ tersirat”.  
Menurut Kotler (2001 : 439)  harga adalah sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari nilai yang ditukar konsumen atas manfaat-manfaat karena memiliki atau menggunakan produk atau jasa tersebut.
Keller (1993: 4) mendefinisikan citra merek sebagai persepsi mengenai sebuah merek sebagaiman direflekikan oleh asosiasi merek yang terdapat dalam benak konsumen.
Banyaknya merek–merek tas yang bersaing di Indonesia, mulai dari tas fashion, tas sekolah, tas olahraga, sampai tas mendaki gunung. Salah satu perusahaan tas import yang menjadi leader adalah Deuter. Deuter adalah merk Jerman berupa ransel untuk kegiatan mendaki gunung, trekking, olahraga salju dan lain-lain. Ini dimulai pada tahun 1898 di Augsburg. Deuter memiliki pengalaman lebih dari 100 tahun dalam bisnis ransel. Deuter yang berarti ventilasi, pada tahun 1984 memperkenalkan backsystem Aircomfort, yang telah merevolusi pasaran produk "hiking". Sekarang Deuter telah meragamkam produknya dengan produk asesoris kegiatan outdoor seperti sleeping bag, water tank, dan lain-lain. Indonesia sendiri mempunyai beberapa perusahaan tas yang cukup berhasil merebut pangsa pasar di indonesia salah satunya yaitu PT Eigerindo Multi Produk Industri atau yang dikenal sebagai Eiger merupakan perusahaan manufaktur dan retail peralatan petualangan alam terbuka yang terbesar di Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1993 oleh Ronny Lukito di Bandung. Nama perusahaannya, Eiger, terinspirasi dari gunung Eiger, yakni gunung yang terletak di Bernese Alps, Swiss, berketinggian 3.970 m di atas permukaan laut. Berawal dari fasilitas yang sangat terbatas, Eiger meluncurkan produk tas dengan hanya dua mesin jahit. Jalan Cihampelas no. 22 Bandung adalah saksi bisu dirintisnya usaha tersebut, yang kemudian dibuka pula sebuah mini-toko tas di tempat yang sama.
Banyaknya merek yang bersaing dalam industri tas baik merek dalam negri maupun luar negri, menyebakan konsumen menjadi lebih selektif dalam menentukan keputusan pembelian. Alasan konsumen yang pertama dalam menetukan keputusan pembelian adalah kualitas atau atribut produk. Oleh sebab itu, pada penulisan ilmiah ini penulis akan membahas tentang “ PENGARUH KUALITAS PRODUK, HARGA, DAN CITRA MEREK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN TAS MEREK KESUKAAN

1.2  Rumusan Masalah dan Batasan Masalah
1.2.1        Rumusan masalah ini mendasari pembuatan penulisan ilmiah, adalah:
1.      Apakah kualitas produk sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian tas merek kesukaan ?
2.      Apakah harga sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian tas merek kesukaan?
3.      Apakah citra merek produk sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian tas merek kesukaan?

1.2.2        Batasan Masalah
Penulis hanya membatasi masalah yang berkaitan dengan variable-variable yang di teliti yaitu kualitas produk, harga,  dan citra merek yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian tas merek kesukaan.

1.2.3        Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan umumnya adalah seberapa besar pengaruh kualitas produk, harga, dan citra merek terhadap keputusan pembelian, tujuan lain dari penulisan ilmiah ini adalah :
1.      Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian tas merek kesukaan.
2.      Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh harga terhadap keputusan pembelian tas merek kesukaan.
3.      Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh citra merek terhadap keputusan pembelian tas merek kesukaan.

1.2.4        Manfaat Penelitian
Ada 2 manfaat yang di peroleh dalam penulisan ilmiah ini. Manfaat tersebut adalah :
  1. Agar penelitian ini bermanfaat sebagai referensi bagi penelitian yang sama untuk selanjutnya.
  2. Untuk menambah wawasan dalam bidang pemasaran khususnya mengenai kualitas produk, harga, dan citra merek yang mempengaruhi keputusan pembelian.

1.2.5        Metode Penelitian
1.5.1 Objek Penelitian
Objek penelitian pada penulisan ilmiah ini adalah 100 konsumen yang membeli tas merek kesukaan :
1.2.6        Teknik pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang di lakukan penulis dalam usaha memperoleh data relevan untuk pemecahan dan penganalisaan permasalahan. Data-data tersebut dapat di peroleh melalui dua cara penelitian pustaka (Library research), yaitu pengumpulan data teoritis dengan cara menelah berbagai literatur dan bahan pustaka lainnya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti :
1.      Penelitian lapangan
a.       Kuisoner
Kuesioner yang di bagikan secara langsung oleh penulis kepada responden yang membeli tas merek kesukaan.

b.      Studi Pustaka
Penulisan ini dilakukan dengan menggali data-data yang berasal dari buku-buku maupun tulisan yang berkaitan dengan pokok masalah yang di bahas.

1.5.2        Jenis dan Sumber data
Data yang di kumpulkan harus dapat di buktikan kebenarannya tepat waktu, sesuai dan dapat memberikan gambaran yang menyeluruh. Maka jenis data yang di gunakan adalah :

1.      Data Kualitatif, yaitu data yang tidak terbentuk numerik, tetapi berbentuk deskriptif penjelasan,uraian dan alasan. Tujuan penelitian kualitatif memberikan informasi yang mendalam dan pemahaman yang luas mengenai masalah penelitian.

2.      Data Kuantitatif, yaitu data dalam bentuk angka yang dapat di hitung,yang di peroleh dari perhitungan kuesioner yang akan di lakukan yang berhubungan dengan masalah yang di teliti.
Sumber data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah data primer, data primer adalah data yang di peroleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama) yang sedang di lakukan peneliti saat ini untuk keperluan penulisan. Sedangkan untuk data sekunder penelitian hanya mengumpulkan informasi saja bukan untuk kepentingan yang sedang di lakukan saat ini tetapi untuk beberapa tujuan lain.
Variable penelitian adalah suatu atribut atau sifat/nilai dari subjek atau kegiatan yang mempunyai variable tertentu yang di tetapkan oleh penelitian untuk di pelajari dan di tarik kesimpulannya
Variable penelitian ini terdiri dari dua macam variable, yaitu variable terikat ( dependen variable ) dan variable bebas ( Independent variable ). Variable-variable yang di gunakan pada penelitian ini adalah:
a.       Variable terikat ( dependen variable ) yang terdiri dari 1 variable yaitu:
1.      Keputusan pembelian tas merek kesukaan (Y1)

b.      Variable bebas ( independent variable ) yang terdiri dari 3 variable yaitu :
1.      Pengaruh Kualitas Produk(X1)
2.      Harga (X2)
3.      Citra merek (X3)











                                                            BAB II
   Kerangka Teoritis

2.1 Pengertian Pemasaran
            Pemasaran melibatkan banyak individu dan organisasi dalam situasi yang berbeda-beda. Akan tetapi, mereka semuanya sama, yaitu melibatkan satu atau lebih individu atau organisasi dengan membujuk orang lain untuk melakukan sesuatu. Pemasaran dalam pengertiannya yang paling luas, didefinisikan sebagai semua kegiatan yang dirancang untuk mendorong dan mengelola segala pertukaran untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan kita. Dari perspektif bisnis yang lebih sempit, pemasaran dapat didefinisikan sebagai sebuah keseluruhan sistem kegiatan bisnis yang dirancang untuk menyediakan sesuatu bagi kelompok, individu, atau organisasi yang memuaskan mereka, guna mencapai tujuan organisasi.ini dicapai dengan mengelola harga, promosi, distribusi, dan produk, jasa atau gagasan yang ditawarkan dalam pertukaran tersebut. Oleh karena itu, pemasaran dalam situasi bisnis bersifat dapat dikelola, merupakan suatu sistem, melibatkan produk, promosi, penetapan harga, dan distribusi (yang perlu dikoordinasi), dan dirancang untuk memberikan sesuatu yang memuaskan atau nilai kepada sesuatu kelompok (pasar sasarn), dan dalam rangka mencapai tujuan organisasi/individu.
            Semua orang mempunyai kebutuhan. Kita memuaskan kebutuhan ini dengan paksaan, dengan membuat atau melakukan sesuatu sendiri, atau dengan menukar sesuatu yang dihargai oleh orang lain untuk sesuatu yang kita inginkan. Contoh yang terakhir ini adalah pemasaran. Pemasaran melibatkan : dua atau lebih orang/organisasi dengan kebutuhan atau keinginan yang harus dipuaskan, pertukaran secara sukarela, sebuah situasi dimana masing-masing kelompok atau individu mempunyai sesuatu yang bernilai untuk diberikan, misalnya sebuah barang, jasa, uang, saham, donasi, atau gagasan yang dapat mereka pertukarkan.
(Eva z Yusuf, Lesley williams, 2007)
2.2  Riset Pemasaran
Riset pemasaran adalah fungsi pemasaran yang menghubungkan antara konsumen, pelanggan dan public dengan pemasaran melalui informasi-informasi yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menetapkan peluang dan maslah pemasaran; menciptakan, menjaga dan mengevaluasi kegiatan pemasaran, mengawasi kinerja pemasaran, dan meningkatkan pengertian pemasaran sebagai sebuah proses.
Maholtra(2004), menyatakan bahwa riset pemasaran adalah “The systematic and objective identification, collection, analysis, dissemination, and use of informations for the purpose of assisting management in decision making related to the identification and solution of problem and opportunities in marketing.”
Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam definisi ini. Yang pertama adalah riset pemasaran yaitu sistematik dimana berarti bahwa perencanaan yang sistematik dibutuhkan pada setiap tahapan dari riset pemasaran. Seluruh prosedur yang ada harus dilakukan metodologi, didokumentasikan secara baik, dan sebisanya telah direncanakan sebelumnya. Riset pemasaran menggunakan metodologi keilmuan dalam mengumpulkan data dan analisisnya untuk menguji ide atau hipotesis. Riset pemasaran harus objektif dan tidak memihak. Riset pemasaran harus bebas dari pengaruh baik secara personal maupu secara politik.
Riset pemasaran berisi identifikasi, pengumpulan, analisis, diseminasi, dan penggunaan informasi. Setiap fase dari proses ini adalah penting. Peneliti mengidentifikasi atau menggambarkan masalah atau peluang dari riset pemasaran dan kemudian menetapkan informasi apa yg dibutuhkan untuk menginvestigasinya. Data yg dikumpulkan dengan metode menggunakan metode yang sesuai, kemudian hasil yang didapatkan, implikasi, dan rekomendasi disediakan dalam sebuah format untuk pengambilan keputusan dan langsung dapat digunakan.
2.2.1 Peranan Riset Pemasaran
Sebelum keputusan-keputusan manajemen dibuat, mara manajer pemasaran perlu memahami apa yang sedang terjadi di lingkungan makro dan mikronya, demikian pula yang terjadi di dalam perusahaannya. Hal ini membutuhkan riset. Riset melibatkan pengumpulan data mengenai faktor-faktor seperti pesaing, pemasok, teknologi baru, dan sebagainya untuk membantu perusahaan memutuskan bagaimana sebaiknya perusahaan itu menjalankan bisnisnya dan melayani pelanggannya.
Riset pemasaran melibatkan seluruh kegiatan yang memungkinkan sebuah perusahaan memperoleh data yang mereka butuhkan untuk membuat keputusan. Riset tersebut melibatkan pengumpulan, penyortiran dan analisis informasi, dan komunikasi atas penemuan-penemuan yang (selanjutnya) digunakan dalam merencanakan kegiatan pemasaran.
Riset pemasaran menggunakan empat sumber informasi .. Pertama, syndicate services (jasa sindikasi). Sumber ini berupa laporan-laporan yang terfokus pada industri, produk, atau jasa secara umum yang dijalankan dan dijual oleh perusahaan-perusahaan riset seperti AC Nielsen. Marketing information system (sistem informasi pemasaran) adalah sumber lain dari data riset. Mereka secara terus menerus mengumpulkan informasi didalam sebuah perusahaan mengenai persoalan-persoalan yang menarik bagi bagi perusahaan tersebut,misalnya data penjualan. Sumber ketiga informasi pemasaran adalah decision support system (sistem pendukung keputusan). Ini juga merupakan kegiatan riset di dalam perusahaan. Namun, tidak seperti sistem infoemasi pemasaran, sistem ini menangani persoalan persoalan pemasaran tertentu bagi organisasi. Misalnya, apakah pelanggan lebih menyukai produk bebas lengket atau apaka mereka tidak yakin mengenai hal ini. Informasi semacam ini membantu mereka merencanakan secara lebih efekti. Sumber dari informasi pemasaran di sebut maketing research project (proyek riset pemasaran). Ini merupakan riset yang tidak berulang, baik di lakukan dalam organisasi ataupun oleh peneliti yang di sewa.
2.3 Merek
            Merek adalah  nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau kombinasi dari hal-hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seseorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakan dari produk pesaing.
            Pada hakikatnya, merek mengidentifikasi penjual atau pembuat. Merek dapat berupa nama, merek dagang, logo, atau simbol lain. Berdasarkan UU merekdagang penjual di berikan hak eksklusif untuk mengguakan mereknya untuk selamanya. Jadi, merek berbeda dengan aktiva lain seperti hak paten dan hak cipta yang mempengaruhi batas waktu.
            Merek sebenarnya merupakan janji penjual untuk secara konsisten memberikan keistimewaan, mafaat dan jasa tertentu kepada pembeli. Merek-merek terbaik memberikan jaminan mutu. Akan tetapi, merek lebih dari sekedar simbol. Merek memiliki enam level pengertian :
1.      Atribut : merek mengingatkan pada atribut-atribut tertentu. Mercedes memberi kesan sebagai mobil yang mahal, dibuat dengan baik dirancang dengan baik, tahan lama, bergensi tinggi.
2.      Manfaat : Atribut perlu di terjemahkan menjadi manfaat fungsioal dan emosional. Atribut “tahan lama” dapat di terjemahkan menjadi manfaat fungsional, “saya tidak perlu beli membeli mobil baru setiap beberapa tahun”. Atribut “mahal” mungkin menejermakan menjadi manfaat emosional.” Mobil ini membuat saya merasa penting dan di hargai.”
3.      Nilai : Merer juga menyatakan suatu tentang nilai produsen. Jadi, mercedes berarti kinerja tinggi, keamanan, gengsi, dan lain-lain.
4.      Budaya : Merek juga mewakili budaya tertentu. Mercedes mewakili budaya jerman : terorganisasi, efisien, bermutu tinggi.
5.      Keperibadian : merek juga mencerminkan keperibadian tertentu. Mercedes mencerminkan pimpinanyang masuk akal(orang), singa yang memerintah(binatang),atau istana yang agung(objek).
6.      Pemakaian : Merek menunjukan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut. Kita akan terkejut mellihat seseorang sektertaris berumur 20 tahun mengendarai mercedes. Yamg kita harapkan adalah seseorang manajer puncak berumur 55 tahun di belakang kemudi.
Jika suatu perusahaan memperlakukan merek hanya sebagai nama, perusahaan tersebut tidak melihat tujuan merek yang sebenarnya. Tantangan dalam pemberian merek adalah mengembangkan satu kumpulan makna yang mendalam untuk merek tersebut. Pemasr harus menetukan pada level mana akan menanamkan identitas merek. Merupakan suatu kesalahan untuk mempromosikan hanya atribut merek. Pertama, pemebeli tidak begitu tertarik pada atribut barang di bandingkan dengan manfaat merek. Kedua, pesaing dapat dengan mudah meniru atribut tersebut. Ketiga, Atribut yang sekarang mungkin nanti akan berkurang nilainya, sehingga merugikan merek yang terlalu terikat pada atribut tersebut. Kotler (2000)
2.3.1 Citra Merek
Keller (1993: 4) mendefinisikan citra merek sebagai persepsi mengenai sebuah merek sebagaiman direflekikan oleh asosiasi merek yang terdapat dalam benak konsumen. Citra merek terdiri dari unsur-unsur berupa Attributes (atribut) yang merupakan pendefinisian deskriptif tentang fitur-fitur yang ada dalam sebuah produk atau jasa. Atribut produk terdiri dari product-related attributes (atribut produk), yakni unsur-unsur yang membuat fungsi produk dapat bekerja, biasanya berhubungan dengan komposisi fisik atau persyaratan dari suatu jasa yang ditawarkan. Atribut lain adalah nonproduct-related attributes (atribut non produk) yang merupakan aspek eksternal dari suatu produk yang berhubungan dengan pembelian dan konsumsi suatu produk atau jasa, di antaranya termasuk informasi tentang harga, kemasan dan desain produk, orang, peer groupatau selebriti yang menggunakan produk atau jasa tersebut, bagaimana dan di mana produk atau jasa itu digunakan.
Unsur kedua menurut Keller adalah Benefits (manfaat), yakni nilai personal yang dikaitkan oleh konsumen pada atribut-atribut produk atau jasa tersebut. Benefit produk terdiri dari functional benefits yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar seperti kebutuhan fisik dan keamanan atau pemecahan masalah, experiential benefits yang berhubungan dengan perasaan yang muncul ketika menggunakan suatu produk atau jasa, dan terakhir adalah symbolic benefits yang berhubungan dengan kebutuhan akan persetujuan sosial atau ekspresi personal dan self-esteem seseorang. Khalayak konsumen biasanya menghargai nilai-nilai prestis, eksklusivitas dan gaya fashion dari sebuah merek karena hal-hal ini berhubungan dengan konsep diri mereka.
2.3.1.1 Faktor-fakrtor yang menbentuk citra merek
            Menurut Keller (1993:3) faktor-faktor yang membentuk citra merek adalah:
1. Kekuatan asosiasi merek (strength of brand association
Tergantung pada bagaimana informasi masuk ke dalam ingatan konsumen dan bagaimana informasi tersebut bertahan sebagai bagian dari brand image.
2. Keuntungan asosiasi merek (Favourability of brand association
Kesuksesan sebuah proses pemasaran sering tergantung pada proses terciptanya asosiasi merek yang menguntungkan, dimana konsumen dapat percaya pada atribut yang diberikan mereka dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.
3. Keunikan asosiasi merek (Uniqueness Of brand association
Suatu merek harus memiliki keunggulan bersaing yang menjadi alasan bagi konsumen untuk memilih merek tertentu. Keunikan asosiasi merek dpat berdasarkan atribut produk, fungsi produk atau citra yang dinikmati konsumen.
2.4 Harga
Harga merupakan nilai barang atau jasa yang di tentukan oleh sejumlah mata uang. Setiap perusahaan untuk merahih sukses dalam memasarkan suatu barang atau jasa, harus menetapkan harga secara tetap. Harga merupakan komponen yang berpengaruh langsung terhadap laba perusahaan. Secara tidak langsung, harga mempengaruhi biaya, karena kuantitas yang terjual berpengaruh pada biaya yang ditimbulkan dalam kaitannya dengan efisiensi produksi. Harga sering kali digunakan sebagai indikator nilai bilamana harga tersebut di hubungkan dengan manfaat yang dirasakan atas suatu barang atau jasa. Disamping itu harga merupakan unsur yang bersifat fleksibel, artinya dapat di ubah denga cepat.
Menurut Kotler (2001 : 439)  harga adalah sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari nilai yang ditukar konsumen atas manfaat-manfaat karena memiliki atau menggunakan produk atau jasa tersebut.
Kotler dan Amstrong (2001 : 339) mengatakan bahwa : “Harga adalah jumlah uang yang dibebankan untuk sebuah produk atau jasa”. Lebih luas lagi, harga adalah jumlah nilai yang konsumen pertukarkan untuk mendapatkan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa”.
Menurut Swastha ( 2010 : 147 ), “ Harga adalah jumlah uang ( ditambah beberapa barang kalau   mungkin ) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya “.
2.5 Keputusan Pembelian
2.5.1 Pengertian keputusan pembelian
Menurut Kotler dan Keller  (2009 : 214) menyatakan bahwa, keputusan pembelian konsumen adalah tahap dimana konsumen juga mungkin membentuk niat untuk membeli produk yang paling disukai, dimana keputusan konsumen untuk memodifikasi, menunda, atau menghindar sangat dipengaruhi resiko yang dirasakan.
Menurut Kotler dan Keller (2009 : 202) terdapat enam tahapan keputusan pembelian yang dilakukan oleh pembeli, yaitu :
1.      Pilihan produk : pada tahapan ini konsumen dihadapkan pada sikapnya terhadap kebutuhan atau keinginan akan suatu produk.
2.      Pilihan merek : pada tahapan ini konsumen menentukan merek apa yang sesuai dengan dirinya diantara dari sekian banyak merek yang ada dipasar.
3.      Pilihan penyalur : pada tahap ini konsumen memilih tempat pembelian produk.
4.      Waktu pembelian : yang dilakukan pada tahapan ini yaitu menentukan waktu pembelian. Kapan konsumen membutuhkan atau menginginkan merek tersebut.
5.      Jumlah pembelian : ini didasarkan pada seberapa besar kebutuhan atau keinginan konsumen akan merek tersebut.
6.      Metode pembayaran : tahapan terakhir pada keputusan pembelian konsumen yaitu menentukan metode pembayaran, apakah dilakukan dengan cara tunai atau kredit.

2.5.2 Tahap – tahap pengambilan keputusan
Menurut Kotler (2005:223), tahapan dalam proses pengambilan keputusan pembelian terdiri dari lima tahap, yaitu :
a.       Pengenalan masalah.
Proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenali masalah atau kebutuhan. Kebutuhan tersebut dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal. Para pemasar perlu mengidentifikasi keadaan yang memicu kebutuhan tertentu. Dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen,para pemasar dapat mengidentifikasi rangsangan yang paling sering membangkitkan minat akan kategori yang mampu memicu minat konsumen.
b.      Pencarian informasi.
Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Kita dapat membaginya ke dalam dua level rangsangan. Situasi pencarian informasi yang lebih ringan dinamakan penguatan perhatian. Pada level itu orang hanya sekedar lebih peka terhadap informasi produk.
            Pada level selanjutnya,orang itu mungkin masuk ke pencarian informasi secara aktif : mencari bahan bacaan, menelepon teman dan mengunjungi toko untuk mempelajari produk tertentu. Sumber informasi konsumen digolongkan kedalam empat kelompok :
v  Sumber pribadi : keluarga, kenalan, tetangga,teman.
v  Sumber komersial : iklan, wiraniaga, penyalur, kemasan, pajangan ditoko.
v  Sumber publik : media massa, organisasi penentu peringkat konsumen.
v  Sumber pengalaman : pengalaman, pengkajian, dan pemakaian produk.
c.       Evaluasi alternative
Terdapat beberapa proses evaluasi keputusan dan model-model yang terbaru memandang proses evaluasi konsumen sebagai proses yang berorientasi kognitif, yaitu model tersebut menganggap konsumen membentuk penilaian atas produk dengan sangat sadar dan rasional.
Beberapa konsep dasar akan membantu kita memahami proses evaluasi konsumen: pertama, konsumen berusaha memenuhi kebutuhan. Kedua, konsumen memandang masing-masing produk sebagai sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam memberikan manfaat yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan itu.
Para konsumen memiliki sikap yang berbeda-beda dalam memandang berbagai atribut yang dianggap relevan dan penting. Mereka akan memberikan perhatian terbesar pada atribut yang memberikan manfaat yang dicarinya.
d.      Keputusan pembelian
Dalam tahap evaluasi, para konsumen membentuk prefensi atas merek-merek yang ada didalam kumpulan pilihan. Konsumen tersebut juga dapat membentuk niat untuk membeli merek yang paling disukai. Terdapat dua faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen yaitu, faktor pertama adalah sikap orang lain. Sejauh mana sikap orang lain  mengurangi alternatif yang disukai seorang akan bergantung pada dua hal: (1) intensitas sikap negatif orang lain terhadapa alternatif yang disukai konsumen dan (2) motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain. Semakin gencar sikap negatif orang lain dan semakin dekat orang lain tersebut dengan konsumen, konsumen akan semakin terantisipasi yang dapat muncul dan mengubah niat pembeliannya. Faktor kedua adalah faktor situasi yang tidak terantisipasi yang dapat muncul dan mengubah niat pembelian, seperti : harga yang diharapkan dan manfaat yang diharapkan.
e.       Perilaku paska pembelian
Setelah membeli produk, konsumen akan mengalami level kepuasan atau ketidakpuasan tertentu. Kepuasan dan ketidakpuasan terhadap produk akan mempengaruhi perilaku konsumen selanjutnya. Jika konsumen tersebut puas, ia akan menunjukan kemungkinan yang lebih tinggi untuk membeli kembali produk tersebut.
Tahap-tahap proses pengambilan keputusan pembelian diatas menunjukan bahwa para konsumen harus melalui lima urutan tahap ketika membeli produk, namun tidak selalu begitu. Para konsumen dapat melewati atau membalik beberapa tahap.


Pengenalan
masalah
Evaluasi
alternatif
Pencarian
  informasi
Keputusan
pembelian
Perilaku pasca pembelian

 




                                    Gambar 1.1 Proses Keputusan Pembelian
Sumber :Kotler (2005:233)
2.5.3 Jenis- jenis perilaku keputusan pembelian
Kotler dan amstrong (2008:177) membagi jenis-jenis keputusan pembelian menjadi empat, antaralain :
a.       Perilaku pembelian kompleks (complex buying behavior) yaitu pembelian konsumen dalam situasi yang di tentukan oleh keterlibatan konsumen yang tinggi dalam pembelian dan perbedaan yang dianggap signifikan antar merek. Konsumen mungkin sangat terlibat ketika produk itu mahal, beresiko, jarang dibeli, dan sangat memperlihatkan expresi diri. Umumnya ,konsumen harus mempelajari banyak hal tentang kategori produk. Pembeli ini akan melewati proses pembelajaran, mula-mula ia akan menggambarkan keyakinan, tentang produk, lalu sikap dan kemudian membuat pilihan yang dipikirkan masak-masak. Pemasar produk dalam hal ini harus memahami pengumpulan informasi dan perilaku evaluasi yang di perlukan yang di lakukan konsumen dengan ketelibatan yang tinggi. Para pemasar perlu membantu untuk mempelajari atribut produk dan kepentingan atribut relatif atribut tersebut.
b.      Perilaku pembelian pengurangan disonasi (dissonance reducing buying behavior) yaitu perilaku pembelian konsumen dalam situasi yang mempunyai karakter keterlibatan tinggi tetapi hanya ada sedikit angapan perbedaan antar merek. Terjadi ketika konsumen sangat terlibat dalam pembelian yang mahal, jarang dilakukan atau beresiko, tetap hanya melihat sedikit perbedaan merek.
c.       Perilaku pembelian kebiasaan (habitual buying behavior) yaitu perilaku pembelian konsumen dalam situasi yang mempunyai karakter keterlibatan konsumen rendah dan anggapan perbedaan merek sedikit. Terjadi dala perbedaan keterlibatan konsumen yang rendah dan sedikit perbedaan merek. Konsumen tampaknya memiliki keterlibatan rendah dengan sebagian besar produk yang sering dibeli. Dalam kasus ini, perilaku konsumen tidak melawati urutan keyakinan sikap perilaku yang biasa. Konsumen tidak secara ekstensif mencari informasi tentang merek, mengevaluasi karakteristik merek dan mempertimbangkan keputusan tentang merek mana yang akan dibeli. Karena pembeli tidak mempunyai komitmen tinggi terhadap merek apapun, pemasar produk keterlibatan rendah dengan sedikit perbedaan merek yang menggukan promosi harga dan penjualan untik merangsang percobaan produk.
d.      Perilaku pembelian mencari keragaman (variety-seeking buying behavior) yaitu perilaku pembelia konsumen yang mempunyai karakter keterlibatan yang rendah tetapi dengan angapan perbedaan merek yang signifikan. Dalam kasus semacam ini, konsumen relatif melakukan penggantian merek. Strategi pemasaran mungkin berbeda untuk pemimpin pasar dan merek kecil. Pemimpin pasar akan mencoba mendorong perilaku pembelian kebiasaan dengan mendominasi ruang rak, membuat rak tetap penuh dan menjalankan iklan untuk mengingatkan konsumen sesering mungkin. Perusahaan penantang akan mendorong pencarian keragaman dengan menawarkan harga yang lebih murah, kesepakatan khusus, kupun, sampel gratis, dan iklan yang menampilka alasan untuk mencoba sesuatu yang baru.
2.6 Kualitas produk
Produk memiliki arti penting bagi perusahaan karena tanpa adanya produk, perusahaan tidak akan dapat melakukan apapun dari usahanya. Pembeli akan membeli produk kalau merasa cocok, karena itu produk harus disesuaikan dengan keinginan ataupun kebutuhan pembeli agar pemasaran produk berhasil. Dengan kata lain, pembuatan produk lebih baik diorientasikan pada keinginan pasar atau selera konsumen.
Mc Charty dan Perreault (2003:107) mengemukakan bahwa, “Produk merupakan hasil dari produksi yang akan dilempar kepada konsumen untuk didistribusikan dan dimanfaatkan konsumen untuk memenuhi kebutuhannya”. Sedangkan menurut Saladin (2002:121), ”Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk diperhatikan, dimiliki, dipakai atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan”.
Menurut  Kotler (2005:49), “Kualitas produk adalah keseluruhan ciri serta dari suatu produk atau pelayanan pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan/ tersirat”.  Sedangkan menurut   Lupiyoadi (2001:158) menyatakan bahwa “ Konsumen akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas “.
2.6.1 Atribut Produk
Menurut Kotler dan Armstrong (2001:354) beberapa atribut yang menyertai dan melengkapi produk (karakteristik atribut produk) adalah:
a.  Merek (Brand)
     Merek (Brand) adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan, atau  kombinasi   dari   semua   ini   yang   dimaksudkan   untuk mengidentifikasi produk atau jasa dari satu atau kelompok penjual dan membedakannya dari produk pesaing. Pemberian merek merupakan masalah pokok dalam strategi produk. Pemberian merek itu mahal dan memakan waktu, serta dapat membuat produk itu berhasil atau gagal. Nama merek yang baik dapat menambah keberhasilan yang besar pada produk (Kotler  dan  Armstrong, 2001:360)
b. Pengemasan (Packing)
Pengemasan(Packing)  adalah  kegiatan  merancang  dan  membuat wadah atau  pembungkus  suatu  produk. 
c. Kualitas Produk (Product Quality)
     Kualitas Produk (Product Quality) adalah kemampuan suatu produk
untuk  melaksanakan  fungsinya  meliputi,  daya  tahan  keandalan,
ketepatan  kemudahan operasi  dan perbaikan,  serta  atribut  bernilai
lainnya.  Untuk  meningkatkan  kualitas  produk  perusahaan  dapat
menerapkan  program ”Total  Quality  Manajemen (TQM)".  
 2.6.2 Klasifikasi Produk
            Menurut Kotler dan Armstrong (2001:280) klasifikasi produk dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
a.       Barang Konsumen
      Barang konsumen yaitu barang yang dikonsumsi untuk kepentingan konsumen akhir sendiri, bukan untuk tujuan bisnis. Umumnya barang konsumsi dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu :
1) Barang kebutuhan sehari-hari (Convience Goods) adalah barang-barang yang biasanya sering dibeli konsumen (memiliki frekuensi pembelian tinggi), dibutuhkan dalam waktu segera, dan memerlukan waktu yang minim dalam pembandingan dan pembeliannya.
2) Barang belanjaan (Shopping Goods) adalah barang-barang yang karakteristiknya dibandingkan dengan berbagai alternatif yang tersedia oleh konsumen berdasarkan kesesuaian, kualitas, harga, dan daya dalam proses pemilihan dan pembeliannya.
3) Barang khusus (Speciality Goods) adalah barang-barang dengan karakteristik dan atau identifikasi yang unik, yang untuknya sekelompok pembeli yang cukup besar bersedia senantiasa melakukan usaha khusus untuk pembeliannya.
4) Barang yang tidak dicari (Unsought Goods) adalah barang-barang yang tidak diketahui konsumen atau walau sudah diketahui namun secara umum konsumen belum terpikir untuk membelinya.
b. Barang Industri
      Barang industri adalah barang-barang yang dikonsumsi oleh industriawan (konsumen antara atau konsumen bisnis) untuk keperluan selain konsumsi langsung, yaitu : untuk diubah, diproduksi menjadi barang lain kemudian dijual kembali oleh produsen, untuk dijual kembali oleh pedagang tanpa dilakukan transformasi fisik (proses produksi).
















                                                       BAB III
                                                Metode Penelitian

3.1 Metode Yang Digunakan
Metode penelitian kuantitatif dalam penelitian ini adalah metode penelitian ekspalanasi. Menurut faisal, objek telah penelitian eksplanasi (eksplanatory research) adalah untuk menguji hubungan antar variabel yang di hipotesiskan, pada jenis penelitian ini , jelas ada hipotesis yang akan diuji kebenerannya, hipotesis itu sendiri menggambarkan hubungan antara dua atau lebih variabel, untuk mengetahui apakah suatu variabel berasosiasi atau tidak dengan variabel lainnya, atau apakah suatu variabel disebabkan atau dipegaruhi ataukah tidak oleh variabel lainnya.
            Metode penelitian survey eksplanatory juga bisa didefinisikan sebagai peneitian survey yang digunakan untuk menjelaskn hubungan kausal dan pengujian. Penelitian ini mempunyai dua sifat , yang pertama ialah deskriptif, yaitu suatu metode yang menyajikan gambaran secara terstruktur,factual, akurat, tentang fakta-fakta, sifat , serta hubungan antara variabel yang diteliti. Kedua, penelitian ini juga bersifat verifikatif yaitu metode yang bertujuan untuk menguji secara sistematis dugaan mengenai adanya hubuga antara variabel dan masalah yang sedang diselidiki didalam hipotesis (singarimbun:2000).
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh warga perumahan indogreen citeureup. Yang menggunakan tas merek kesukaan khususnya merek deuter dan eiger.

3.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan adalah data primer . menurut Umar (2001) data primer adalah data yang diperoleh dari sumber pertama baik dari individu atau perseorangan dari hasil wawancara pengisian kuesioner atau tanda bukti pembelian barang. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari konsumen berupa jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh peneliti dalam bentuk wawancara dan kuesioner. Kuesioner dengan bentuk pertanyaan tertutup, yaitu kuesioner yang menyajikan pertanyaan dengan pilihan jawabannya. Data primer dalam penelitian ini meliputi tanggapan responden (pengguna tas bermerk) sehubungan dengan keputusan pembelian tas merek local dan impor.
3.4 Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah objek penelitian , atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2002). Dalam penelitia ini terdapat tiga variabel bebas (X) dan satu variabel terikat (Y).
1.      Variabel bebas / independent variabel (x)
Yaitu variabel yang berhubungan atau dipengaruhi dengan variabel lain atau yang diselidiki hubungannya dan pengaruhnya.yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah  : Kualitas Produk (X1), Harga (X2), dan Citra Merek (X3).
2.      Variabel terikat / dependent variabel (Y)
Variabel terikat adalah gejala atau unsur variabel yang dipengaruhi variabel lain . yang menjadi variabel terikat dari penelitian ini adalah keputusan pembelian
3.5 Teknik Pengukuran Variabel
Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data primer dalam penelitian ini adalah kuesioner. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert. Skala ini berinterasi 1-5 dengan pilihan jawaban sebagai berikut :
·         (1) Sangat Tidak Setuju (STS)
·         (2) Tidak Setuju (TS)
·         (3) Cukup Setuju (CS)
·         (4) Setuju (S)
·         (5) Sangat Setuju (ST)
Pemberian skor untuk mimpor-mimpor jawaban dalam kuesioner adalah sebagai berikut :
·         Pilihan pertama, memiliki nilai skor 1 (satu)
·         Pilihan kedua, memiliki nilai skor 2 (dua)
·         Pilihan ketiga, memiliki nilai skor 3 (tiga)
·         Pilihan keempat, memiliki nilai skor 4 (empat)
·         Pilihan kelima, memiliki nilai skor 5 (lima)
3.6 Hasil Uji Instrument Penelitian
3.6.1 Uji Validitas
            Untuk mengetahui bagaimana validitas dari setiap pertanyaan dalam angket digunakan validitas butir instrument, yaitu pengecekan yang dilakukan pada setiap butir pertanyaan yang ditulis dalam kuesioer. Pengecekan dilakukan dengan menggunakan alat bantu software SPSS 20.
3.6.2 Uji Reliabilitasi
            Setelah dilakukan uji validitas, Rehabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya, maksudnya apabila dalam beberapa pelaksana pengukuran terhadap kelompok yang sama diperoleh hasil yang relative sama (Azwar,2000). Reliabilitas juga merupakan ukuran suatu kesetabilan dan konsistensi reponden dalam menjawab hal – hal yang berkaitan dengan konstruk- konstruk pertanyaan yang merupakan dimensi suatu variabel dan di susun dalam suatu bentuk kuesioner. Reliabilitas yang tinggi dalam mengukur variabel laten. Tingkat reliabilitas dengan metode alpha-cronbach diukur berdasarkan skala 0 sampai 1. Menurut Triton P.B (2006) apabila skala tersebut dikelompokan kedalam lima kelas dengan range yang sama. Maka ukuran alpha dapat diinterprestasikan seperti table berikut :
                                                             Tabel 1
                           Tingkat Reliabilitas Berdasarkan Nilai Alpha
Alpha
Tingkat Reliabilitas
0,0 s.d 0,20
Kurang Reliabel
0,20 s.d  0,40
Agak Reliabel
0.40 s.d 0,60
Cukup Reliabel
0,60 s.d 0,80
Reliabel
0,80 s.d 1,00
Sangat Reliabel

3.7 Alat Analisis
3.7.1 Analisis Faktor
Pada awalnya teknik analisis faktor dikembangkan pada awal abad ke-20. Teknik analisis ini dikembangkan dalam bidang psikometrik atas usaha akhil statistikaw karl pearson dan lainnya untuk mendefinisikan dan mengukur intelegensia seseorang.
Pada analisis factor (factor analysis) dapat dibagi menjadi dua macam yaitu analisis komponen utama dan analisis faktor. Kedua analisis diatas bertujuan menerangkan  struktur ragam – peragaman melalui kombinasi linear dari variabel- variabel pembentuknya. Sehingga dapat dikatakan bahwa factor atau komponen adalah variabel bentukan bukan variabel asli. Secara umum analisis faktor atau analisis komponen utama bertujuan untuk mereduksi dan menginterprestasikannya sebagai variabel baru yang berupa variabel bentukan.

3.7.2 Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda merupakan hubungan secara linier antara dua variabel atau lebih variabel independen (X1,X2,X3,X4,…Xn) dengan variabel dependen Y.analisis untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independent dengan variabel dependen apakah mipor – mipor variabel Independen berhubungan positif atau negatif  dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan. Data yang digunakan biasanya berskala interval atau rasio.
Persamaan regresi linear berganda sebagai berikut :
Y = a + b1X1 + b2X2 + … + bn Xn
Keterangan :
Y                     : Variabel dependen
X1 dan X2      : Variabel independen
a                      : Konstanta
3.7.3 Analisis Korelasi Ganda (R)
            Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel independen (X1,X2,X3) terhadap variabel dependen (Y) secara serentak. Koefisien ini menunjukan seberapa besar hubungan yang terjadi antara variabel independen (X1,X2,X3) secara serentak terhadap (Y). Nilai R berkisar antara 0 samai 1, nilai semakin mendekati 1 berarti berhubung yang terjadi semakin kuat, sebaliknya nilai semakin mendekati 0 maka hubungan yang terjadi semakin lemah. Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk memberikan interprestasi koefisien korelasi sebgai berikut :
            0,00 – 0,199    = Sangat Rendah
            0,20– 0,399     = Rendah
0,40 – 0,599    = Sedang
0,60 - 0,799     = Kuat
0,80 – 1,000    = Sangat Kuat
3.7.4 Analisis Determinasi (Adjusted R2)
            Analisis determinasi dalam regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui persentasi sumbangan pengaruh variabel independen (X1,X2,X3) secara serentak terhadap variabel dependen (Y). Koefisien ini menunjukan seberapa besar persentase variasi variabel independen yang digunakan dalam model mampu menjelaskan variasi variabael dependen. Adjusted R2 sama dengan 0, maka tidak ada sedikitpun persentase pengaruh yang diberikan variabel independen terhadap variabel dependen, atau variasi variabel yang digunakan dalam model tidak menjelaskan sedikitpun variasi variabel dependen. Sebaliknya  Adjusted R2 sama dengan 1, maka persentasenya pengaruh yang diberikan variabel independen terhadap variabel dependen adalah sempurna atau 100%.
3.7.5 Pengujian Hipotesis
3.7.5.1 Uji F
            Untuk membuktikan kebenaran hipotesa secara keseluruhan (bersama) digunakan uji F, yaitu untuk mengetahui pengaruh variabel – variabel bebas yang terdapat di dalam model secara bersama – bersama terhadap variabel terikat.
Dengan Hipotesis :
Ho : β = 0 artinya, tidak ada pengaruh antara variabel independen secara bersama – sama terhadap variabel dependen.
Ha : β = 0 artinya, ada pengaruh antara variabel independen secara bersama – sama terhadap variabel dependen.

Dengan tingkat signifikasi (α) yang ada digunakan adalah 5%, distribusi F dengan derajat kebebasan (α ; K -1 , n-K). Kreteria pengujian:
Fhitung < Ftabel = Ho diterima, artinya variabel independen secara atau bersama – sama tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
Fhitung > Ftabel = Ho ditolak, artinya variabel independen secara atau bersama – sama mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
3.7.5.2 Uji T
            Pengujian secara individual (uji-t) yaitu pengujian koefisien regresi secara parsial dengan menetukan formula stastistikyang akan diuji, dengan hipotesa :
Ho : b1 = 0, artinya tidak ada pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen.
Ha :  b1 = 0, artinya ada pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen.
            Dengan tingkat signifikan (α) 5% dart df = n-K-1 diperoleh nilai T table kemudian nilai T table dibandingkan dengan nilai thitung yang diperoleh. Dengan membandingkan kedua nilai T tersebut, maka akan diketahui pengaruhnya,yaitu dapat diterima atau ditolaknya hipotesis.
Kriteria pengujian :
thitung  <  ttabel = Ho ditolak dan Ha diterima, artinya variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.

thitung       <      ttabel   =   Ho diterima dan Ha ditolak, artinya variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.


Nama : Agni Bhuwono S
Npm  : 10212331
Kelas : 3EA04

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa Inggris Bisnis 2

1. Contoh kalimat Subject - Verb Agreement The charger risks every month           The chargers risk every month He is driver ta...