BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
latar
belakang
Pada
masa ini, industri sedang berkembang pesat. Salah satu sektor industri yang
mengalami persaingan ketat adalah industri tas. Indonesia merupakan pasar yang
potensial untuk produk-produk tas baik dari dalam negri maupun luar negri. Tas merupakan suatu wadah atau tempat yang digunakan
untuk meletakkan barang agar bisa dibawa kemanapun kita
pergi.
Tas
sudah ada pada jaman prasejarah, ini terbukti dengan ada tas yang terbuat dari
kulit. Tas dari kulit ini biasanya digunakan untuk membawa makanan atau benda
yang bersifat ringan. Ada lagi tas
yang terbuat dari kayu yang digunakan untuk membawa batu pada saat itu. Tas merupakan sesuatu
yang sangat dekat dengan
kehidupan kita sehari-hari.
Mulai dari ke sekolah,
olahraga/mendaki sebuah gunung, maupun sekedar
hangout bersama teman-teman, sudah
dipastikan kita pasti membawa tas. Tas adalah salah satu barang terpenting
dalam kehidupan.
Masyarakat di Indonesia sendiri mempunyai hobi mendaki
sebuah gunung dikarnakan letak geografisnya yang dikelilingi pegunungaan sangat
tepat untuk mendaki sebuah gunung dan mendaki sebuah gunung seperti trend atau
gaya hidup yang baik untuk pria dan wanita. Sebuah tas sangat di perlukan untuk
membawa perlengkapan yang dibutuhkan. Hal ini menyebabkan
produsen-produsen tas harus mampu bersaing dalam memperebutkan pangsa pasar. Persaingan industri tas
cukup ketat disebabkan oleh banyaknya produk tas impor yang memasuki pasar. Salah satu kekuatan
dari sebuah poduk didalam persaingan adalah
kualitas produk, harga, dan citra merek, karena kualitas produk, harga, dan citra merek
adalah daya pembeda dengan produk lain.
Menurut Kotler
(2005:49), “Kualitas produk adalah keseluruhan ciri serta dari suatu produk
atau pelayanan pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan/
tersirat”.
Menurut
Kotler (2001 : 439) harga adalah
sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari
nilai yang ditukar konsumen atas manfaat-manfaat karena memiliki atau
menggunakan produk atau jasa tersebut.
Keller
(1993: 4) mendefinisikan citra merek sebagai persepsi mengenai sebuah merek
sebagaiman direflekikan oleh asosiasi merek yang terdapat dalam benak konsumen.
Banyaknya merek–merek tas yang bersaing di Indonesia,
mulai dari tas fashion, tas sekolah, tas olahraga, sampai tas mendaki gunung. Salah
satu perusahaan tas
import yang menjadi leader adalah Deuter.
Deuter adalah merk Jerman berupa ransel untuk
kegiatan mendaki gunung, trekking, olahraga salju dan lain-lain. Ini dimulai pada
tahun 1898 di Augsburg. Deuter
memiliki
pengalaman lebih dari 100 tahun dalam bisnis ransel. Deuter yang berarti
ventilasi, pada tahun 1984 memperkenalkan backsystem Aircomfort, yang telah
merevolusi pasaran produk "hiking". Sekarang Deuter telah
meragamkam produknya dengan produk asesoris kegiatan outdoor seperti sleeping
bag, water tank, dan lain-lain.
Indonesia
sendiri mempunyai beberapa perusahaan tas yang cukup berhasil merebut pangsa
pasar di indonesia salah satunya yaitu PT Eigerindo Multi Produk Industri atau
yang dikenal sebagai Eiger merupakan perusahaan manufaktur dan retail peralatan
petualangan alam terbuka yang terbesar di Indonesia. Perusahaan ini didirikan
pada tahun 1993 oleh Ronny Lukito di Bandung. Nama perusahaannya, Eiger,
terinspirasi dari gunung Eiger, yakni gunung yang terletak di Bernese Alps,
Swiss, berketinggian 3.970 m di atas permukaan laut. Berawal dari fasilitas
yang sangat terbatas, Eiger meluncurkan produk tas dengan hanya dua mesin
jahit. Jalan Cihampelas no. 22 Bandung adalah saksi bisu dirintisnya usaha
tersebut, yang kemudian dibuka pula sebuah mini-toko tas di tempat yang sama.
Banyaknya
merek yang bersaing dalam
industri tas baik merek
dalam negri maupun luar negri, menyebakan konsumen menjadi lebih selektif dalam
menentukan keputusan pembelian. Alasan konsumen yang pertama dalam menetukan
keputusan pembelian adalah kualitas atau atribut produk. Oleh sebab itu, pada
penulisan ilmiah ini penulis akan membahas tentang “ PENGARUH KUALITAS PRODUK, HARGA, DAN CITRA MEREK TERHADAP KEPUTUSAN
PEMBELIAN TAS MEREK KESUKAAN “
1.2
Rumusan
Masalah dan Batasan Masalah
1.2.1
Rumusan
masalah ini mendasari pembuatan penulisan ilmiah, adalah:
1. Apakah kualitas produk sangat berpengaruh
terhadap keputusan pembelian tas merek kesukaan ?
2. Apakah harga sangat berpengaruh
terhadap keputusan pembelian tas merek kesukaan?
3. Apakah citra merek produk sangat berpengaruh
terhadap keputusan pembelian tas merek kesukaan?
1.2.2
Batasan
Masalah
Penulis hanya membatasi masalah yang
berkaitan dengan variable-variable yang di teliti yaitu kualitas produk,
harga, dan citra merek yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian tas merek
kesukaan.
1.2.3
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah tersebut, tujuan umumnya adalah seberapa besar pengaruh
kualitas produk, harga, dan citra
merek terhadap keputusan pembelian, tujuan lain dari penulisan ilmiah ini
adalah :
1. Untuk
menganalisis seberapa besar pengaruh kualitas produk terhadap keputusan
pembelian tas merek kesukaan.
2. Untuk
menganalisis seberapa besar pengaruh harga
terhadap
keputusan pembelian tas merek kesukaan.
3. Untuk
menganalisis seberapa besar pengaruh citra
merek terhadap keputusan pembelian tas merek kesukaan.
1.2.4
Manfaat
Penelitian
Ada
2 manfaat yang di peroleh dalam penulisan ilmiah ini. Manfaat tersebut adalah :
- Agar
penelitian ini bermanfaat sebagai referensi bagi penelitian yang sama
untuk selanjutnya.
- Untuk
menambah wawasan dalam bidang pemasaran khususnya mengenai kualitas
produk, harga, dan citra merek yang mempengaruhi keputusan pembelian.
1.2.5
Metode
Penelitian
1.5.1
Objek Penelitian
Objek
penelitian pada penulisan ilmiah ini adalah 100 konsumen yang membeli tas merek
kesukaan :
1.2.6
Teknik pengumpulan data
Metode
pengumpulan data yang di lakukan penulis dalam usaha memperoleh data relevan
untuk pemecahan dan penganalisaan permasalahan. Data-data tersebut dapat di
peroleh melalui dua cara penelitian pustaka (Library research), yaitu
pengumpulan data teoritis dengan cara menelah berbagai literatur dan bahan
pustaka lainnya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti :
1. Penelitian
lapangan
a. Kuisoner
Kuesioner yang di
bagikan secara langsung oleh penulis kepada responden yang membeli tas merek
kesukaan.
b. Studi
Pustaka
Penulisan ini dilakukan
dengan menggali data-data yang berasal dari buku-buku maupun tulisan yang
berkaitan dengan pokok masalah yang di bahas.
1.5.2
Jenis dan Sumber data
Data yang di kumpulkan
harus dapat di buktikan kebenarannya tepat waktu, sesuai dan dapat memberikan
gambaran yang menyeluruh. Maka jenis data yang di gunakan adalah :
1. Data
Kualitatif, yaitu data yang tidak terbentuk numerik, tetapi berbentuk
deskriptif penjelasan,uraian dan alasan. Tujuan penelitian kualitatif
memberikan informasi yang mendalam dan pemahaman yang luas mengenai masalah
penelitian.
2. Data
Kuantitatif, yaitu data dalam bentuk angka yang dapat di hitung,yang di peroleh
dari perhitungan kuesioner yang akan di lakukan yang berhubungan dengan masalah
yang di teliti.
Sumber data yang di
gunakan dalam penelitian ini adalah data primer, data primer adalah data yang
di peroleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama) yang sedang di
lakukan peneliti saat ini untuk keperluan penulisan. Sedangkan untuk data
sekunder penelitian hanya mengumpulkan informasi saja bukan untuk kepentingan
yang sedang di lakukan saat ini tetapi untuk beberapa tujuan lain.
Variable
penelitian adalah suatu atribut atau sifat/nilai dari subjek atau kegiatan yang
mempunyai variable tertentu yang di tetapkan oleh penelitian untuk di pelajari
dan di tarik kesimpulannya
Variable
penelitian ini terdiri dari dua macam variable, yaitu variable terikat (
dependen variable ) dan variable bebas ( Independent variable ).
Variable-variable yang di gunakan pada penelitian ini adalah:
a. Variable
terikat ( dependen variable ) yang terdiri dari 1 variable yaitu:
1. Keputusan
pembelian tas merek kesukaan (Y1)
b. Variable
bebas ( independent variable ) yang terdiri dari 3 variable yaitu :
1. Pengaruh
Kualitas Produk(X1)
2. Harga
(X2)
3. Citra
merek (X3)
BAB II
Kerangka Teoritis
2.1 Pengertian
Pemasaran
Pemasaran melibatkan
banyak individu dan organisasi dalam situasi yang berbeda-beda. Akan tetapi,
mereka semuanya sama, yaitu melibatkan satu atau lebih individu atau organisasi
dengan membujuk orang lain untuk melakukan sesuatu. Pemasaran dalam
pengertiannya yang paling luas, didefinisikan sebagai semua kegiatan yang
dirancang untuk mendorong dan mengelola segala pertukaran untuk memuaskan
keinginan dan kebutuhan kita. Dari perspektif bisnis yang lebih sempit,
pemasaran dapat didefinisikan sebagai sebuah keseluruhan sistem kegiatan bisnis
yang dirancang untuk menyediakan sesuatu bagi kelompok, individu, atau
organisasi yang memuaskan mereka, guna mencapai tujuan organisasi.ini dicapai
dengan mengelola harga, promosi, distribusi, dan produk, jasa atau gagasan yang
ditawarkan dalam pertukaran tersebut. Oleh karena itu, pemasaran dalam situasi
bisnis bersifat dapat dikelola, merupakan suatu sistem, melibatkan produk,
promosi, penetapan harga, dan distribusi (yang perlu dikoordinasi), dan
dirancang untuk memberikan sesuatu yang memuaskan atau nilai kepada sesuatu
kelompok (pasar sasarn), dan dalam rangka mencapai tujuan organisasi/individu.
Semua orang mempunyai kebutuhan.
Kita memuaskan kebutuhan ini dengan paksaan, dengan membuat atau melakukan
sesuatu sendiri, atau dengan menukar sesuatu yang dihargai oleh orang lain
untuk sesuatu yang kita inginkan. Contoh yang terakhir ini adalah pemasaran.
Pemasaran melibatkan : dua atau lebih orang/organisasi dengan kebutuhan atau
keinginan yang harus dipuaskan, pertukaran secara sukarela, sebuah situasi
dimana masing-masing kelompok atau individu mempunyai sesuatu yang bernilai
untuk diberikan, misalnya sebuah barang, jasa, uang, saham, donasi, atau
gagasan yang dapat mereka pertukarkan.
(Eva
z Yusuf, Lesley williams, 2007)
2.2 Riset Pemasaran
Riset
pemasaran adalah fungsi pemasaran yang menghubungkan antara konsumen, pelanggan
dan public dengan pemasaran melalui informasi-informasi yang digunakan untuk
mengidentifikasi dan menetapkan peluang dan maslah pemasaran; menciptakan,
menjaga dan mengevaluasi kegiatan pemasaran, mengawasi kinerja pemasaran, dan
meningkatkan pengertian pemasaran sebagai sebuah proses.
Maholtra(2004),
menyatakan bahwa riset pemasaran adalah “The
systematic and objective identification, collection, analysis, dissemination,
and use of informations for the purpose of assisting management in decision
making related to the identification and solution of problem and opportunities
in marketing.”
Ada
beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam definisi ini. Yang pertama adalah
riset pemasaran yaitu sistematik dimana berarti bahwa perencanaan yang
sistematik dibutuhkan pada setiap tahapan dari riset pemasaran. Seluruh
prosedur yang ada harus dilakukan metodologi, didokumentasikan secara baik, dan
sebisanya telah direncanakan sebelumnya. Riset pemasaran menggunakan metodologi
keilmuan dalam mengumpulkan data dan analisisnya untuk menguji ide atau
hipotesis. Riset pemasaran harus objektif dan tidak memihak. Riset pemasaran
harus bebas dari pengaruh baik secara personal maupu secara politik.
Riset
pemasaran berisi identifikasi, pengumpulan, analisis, diseminasi, dan
penggunaan informasi. Setiap fase dari proses ini adalah penting. Peneliti
mengidentifikasi atau menggambarkan masalah atau peluang dari riset pemasaran
dan kemudian menetapkan informasi apa yg dibutuhkan untuk menginvestigasinya.
Data yg dikumpulkan dengan metode menggunakan metode yang sesuai, kemudian
hasil yang didapatkan, implikasi, dan rekomendasi disediakan dalam sebuah
format untuk pengambilan keputusan dan langsung dapat digunakan.
2.2.1 Peranan
Riset Pemasaran
Sebelum
keputusan-keputusan manajemen dibuat, mara manajer pemasaran perlu memahami apa
yang sedang terjadi di lingkungan makro dan mikronya, demikian pula yang
terjadi di dalam perusahaannya. Hal ini membutuhkan riset. Riset melibatkan
pengumpulan data mengenai faktor-faktor seperti pesaing, pemasok, teknologi
baru, dan sebagainya untuk membantu perusahaan memutuskan bagaimana sebaiknya
perusahaan itu menjalankan bisnisnya dan melayani pelanggannya.
Riset
pemasaran melibatkan seluruh kegiatan yang memungkinkan sebuah perusahaan
memperoleh data yang mereka butuhkan untuk membuat keputusan. Riset tersebut
melibatkan pengumpulan, penyortiran dan analisis informasi, dan komunikasi atas
penemuan-penemuan yang (selanjutnya) digunakan dalam merencanakan kegiatan
pemasaran.
Riset
pemasaran menggunakan empat sumber informasi .. Pertama, syndicate services
(jasa sindikasi). Sumber ini berupa laporan-laporan yang terfokus pada
industri, produk, atau jasa secara umum yang dijalankan dan dijual oleh
perusahaan-perusahaan riset seperti AC Nielsen. Marketing information system
(sistem informasi pemasaran) adalah sumber lain dari data riset. Mereka secara
terus menerus mengumpulkan informasi didalam sebuah perusahaan mengenai
persoalan-persoalan yang menarik bagi bagi perusahaan tersebut,misalnya data
penjualan. Sumber ketiga informasi pemasaran adalah decision support system
(sistem pendukung keputusan). Ini juga merupakan kegiatan riset di dalam
perusahaan. Namun, tidak seperti sistem infoemasi pemasaran, sistem ini
menangani persoalan persoalan pemasaran tertentu bagi organisasi. Misalnya,
apakah pelanggan lebih menyukai produk bebas lengket atau apaka mereka tidak
yakin mengenai hal ini. Informasi semacam ini membantu mereka merencanakan
secara lebih efekti. Sumber dari informasi pemasaran di sebut maketing research project (proyek riset
pemasaran). Ini merupakan riset yang tidak berulang, baik di lakukan dalam
organisasi ataupun oleh peneliti yang di sewa.
2.3 Merek
Merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, rancangan, atau
kombinasi dari hal-hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang
atau jasa dari seseorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakan dari
produk pesaing.
Pada hakikatnya, merek
mengidentifikasi penjual atau pembuat. Merek dapat berupa nama, merek dagang,
logo, atau
simbol lain. Berdasarkan UU merekdagang penjual di berikan hak eksklusif untuk
mengguakan mereknya untuk selamanya. Jadi, merek berbeda dengan aktiva lain
seperti hak paten dan hak cipta yang mempengaruhi batas waktu.
Merek sebenarnya merupakan janji
penjual untuk secara konsisten memberikan keistimewaan, mafaat dan jasa
tertentu kepada pembeli. Merek-merek terbaik memberikan jaminan mutu. Akan
tetapi, merek lebih dari sekedar simbol. Merek memiliki enam level pengertian :
1. Atribut
: merek mengingatkan pada atribut-atribut tertentu. Mercedes memberi kesan
sebagai mobil yang mahal, dibuat dengan baik dirancang dengan baik, tahan lama,
bergensi tinggi.
2. Manfaat
: Atribut perlu di terjemahkan menjadi manfaat fungsioal dan emosional. Atribut
“tahan lama” dapat di terjemahkan menjadi manfaat fungsional, “saya tidak perlu
beli membeli mobil baru setiap beberapa tahun”. Atribut “mahal” mungkin
menejermakan menjadi manfaat emosional.” Mobil ini membuat saya merasa penting
dan di hargai.”
3. Nilai
: Merer juga menyatakan suatu tentang nilai produsen. Jadi, mercedes berarti
kinerja tinggi, keamanan, gengsi, dan lain-lain.
4. Budaya
: Merek juga mewakili budaya tertentu. Mercedes mewakili budaya jerman :
terorganisasi, efisien, bermutu tinggi.
5. Keperibadian
: merek juga mencerminkan keperibadian tertentu. Mercedes mencerminkan
pimpinanyang masuk akal(orang), singa yang memerintah(binatang),atau istana
yang agung(objek).
6. Pemakaian
: Merek menunjukan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan produk
tersebut. Kita akan terkejut mellihat seseorang sektertaris berumur 20 tahun
mengendarai mercedes. Yamg kita harapkan adalah seseorang manajer puncak
berumur 55 tahun di belakang kemudi.
Jika
suatu perusahaan memperlakukan merek hanya sebagai nama, perusahaan tersebut
tidak melihat tujuan merek yang sebenarnya. Tantangan dalam pemberian merek
adalah mengembangkan satu kumpulan makna yang mendalam untuk merek tersebut.
Pemasr harus menetukan pada level mana akan menanamkan identitas merek.
Merupakan suatu kesalahan untuk mempromosikan hanya atribut merek. Pertama,
pemebeli tidak begitu tertarik pada atribut barang di bandingkan dengan manfaat
merek. Kedua, pesaing dapat dengan mudah meniru atribut tersebut. Ketiga,
Atribut yang sekarang mungkin nanti akan berkurang nilainya, sehingga merugikan
merek yang terlalu terikat pada atribut tersebut. Kotler (2000)
2.3.1 Citra Merek
Keller
(1993: 4) mendefinisikan citra merek sebagai persepsi mengenai sebuah merek
sebagaiman direflekikan oleh asosiasi merek yang terdapat dalam benak konsumen.
Citra merek terdiri dari unsur-unsur berupa Attributes (atribut) yang
merupakan pendefinisian deskriptif tentang fitur-fitur yang ada dalam sebuah
produk atau jasa. Atribut produk terdiri dari product-related
attributes (atribut produk), yakni unsur-unsur yang membuat fungsi produk
dapat bekerja, biasanya berhubungan dengan komposisi fisik atau persyaratan
dari suatu jasa yang ditawarkan. Atribut lain adalah nonproduct-related
attributes (atribut non produk) yang merupakan aspek eksternal dari suatu
produk yang berhubungan dengan pembelian dan konsumsi suatu produk atau
jasa, di antaranya termasuk informasi tentang harga, kemasan dan desain produk,
orang, peer groupatau selebriti yang menggunakan produk atau jasa
tersebut, bagaimana dan di mana produk atau jasa itu digunakan.
Unsur
kedua menurut Keller adalah Benefits (manfaat), yakni nilai personal
yang dikaitkan oleh konsumen pada atribut-atribut produk atau jasa tersebut.
Benefit produk terdiri dari functional benefits yang berhubungan
dengan pemenuhan kebutuhan dasar seperti kebutuhan fisik dan keamanan atau
pemecahan masalah, experiential benefits yang berhubungan dengan perasaan
yang muncul ketika menggunakan suatu produk atau jasa, dan terakhir adalah symbolic
benefits yang berhubungan dengan kebutuhan akan persetujuan sosial atau
ekspresi personal dan self-esteem seseorang. Khalayak konsumen
biasanya menghargai nilai-nilai prestis, eksklusivitas dan
gaya fashion dari sebuah merek karena hal-hal ini berhubungan dengan
konsep diri mereka.
2.3.1.1 Faktor-fakrtor
yang menbentuk citra merek
Menurut Keller (1993:3)
faktor-faktor yang membentuk citra merek adalah:
1. Kekuatan
asosiasi merek (strength of brand
association)
Tergantung
pada bagaimana informasi masuk ke dalam ingatan konsumen dan bagaimana
informasi tersebut bertahan sebagai bagian dari brand image.
2. Keuntungan
asosiasi merek (Favourability of brand
association)
Kesuksesan
sebuah proses pemasaran sering tergantung pada proses terciptanya asosiasi
merek yang menguntungkan, dimana konsumen dapat percaya pada atribut yang
diberikan mereka dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.
3. Keunikan
asosiasi merek (Uniqueness Of brand
association)
Suatu
merek harus memiliki keunggulan bersaing yang menjadi alasan bagi konsumen
untuk memilih merek tertentu. Keunikan asosiasi merek dpat berdasarkan atribut
produk, fungsi produk atau citra yang dinikmati konsumen.
2.4 Harga
Harga
merupakan nilai barang atau jasa yang di tentukan oleh sejumlah mata uang.
Setiap perusahaan untuk merahih sukses dalam memasarkan suatu barang atau jasa,
harus menetapkan harga secara tetap. Harga merupakan komponen yang berpengaruh
langsung terhadap laba perusahaan. Secara tidak langsung, harga mempengaruhi
biaya, karena kuantitas yang terjual berpengaruh pada biaya yang ditimbulkan
dalam kaitannya dengan efisiensi produksi. Harga sering kali digunakan sebagai
indikator nilai bilamana harga tersebut di hubungkan dengan manfaat yang
dirasakan atas suatu barang atau jasa. Disamping itu harga merupakan unsur yang
bersifat fleksibel, artinya dapat di ubah denga cepat.
Menurut
Kotler (2001 : 439) harga adalah
sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari
nilai yang ditukar konsumen atas manfaat-manfaat karena memiliki atau
menggunakan produk atau jasa tersebut.
Kotler
dan Amstrong (2001 : 339) mengatakan bahwa : “Harga adalah jumlah uang yang
dibebankan untuk sebuah produk atau jasa”. Lebih luas lagi, harga adalah jumlah
nilai yang konsumen pertukarkan untuk mendapatkan manfaat dari memiliki atau
menggunakan produk atau jasa”.
Menurut
Swastha ( 2010 : 147 ), “ Harga adalah jumlah uang ( ditambah beberapa barang
kalau mungkin ) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah
kombinasi dari barang beserta pelayanannya “.
2.5 Keputusan Pembelian
2.5.1 Pengertian
keputusan pembelian
Menurut
Kotler dan Keller (2009 : 214)
menyatakan bahwa, keputusan pembelian konsumen adalah tahap dimana konsumen
juga mungkin membentuk niat untuk membeli produk yang paling disukai, dimana
keputusan konsumen untuk memodifikasi, menunda, atau menghindar sangat
dipengaruhi resiko yang dirasakan.
Menurut
Kotler dan Keller (2009 : 202) terdapat enam tahapan keputusan pembelian yang
dilakukan oleh pembeli, yaitu :
1. Pilihan
produk : pada tahapan ini konsumen dihadapkan pada sikapnya terhadap kebutuhan
atau keinginan akan suatu produk.
2. Pilihan
merek : pada tahapan ini konsumen menentukan merek apa yang sesuai dengan
dirinya diantara dari sekian banyak merek yang ada dipasar.
3. Pilihan
penyalur : pada tahap ini konsumen memilih tempat pembelian produk.
4. Waktu
pembelian : yang dilakukan pada tahapan ini yaitu menentukan waktu pembelian.
Kapan konsumen membutuhkan atau menginginkan merek tersebut.
5. Jumlah
pembelian : ini didasarkan pada seberapa besar kebutuhan atau keinginan
konsumen akan merek tersebut.
6. Metode
pembayaran : tahapan terakhir pada keputusan pembelian konsumen yaitu
menentukan metode pembayaran, apakah dilakukan dengan cara tunai atau kredit.
2.5.2 Tahap – tahap
pengambilan keputusan
Menurut
Kotler (2005:223), tahapan dalam proses pengambilan keputusan pembelian terdiri
dari lima tahap, yaitu :
a. Pengenalan
masalah.
Proses
pembelian dimulai ketika pembeli mengenali masalah atau kebutuhan. Kebutuhan
tersebut dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal. Para pemasar
perlu mengidentifikasi keadaan yang memicu kebutuhan tertentu. Dengan
mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen,para pemasar dapat
mengidentifikasi rangsangan yang paling sering membangkitkan minat akan
kategori yang mampu memicu minat konsumen.
b. Pencarian
informasi.
Konsumen
yang terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih
banyak. Kita dapat membaginya ke dalam dua level rangsangan. Situasi pencarian
informasi yang lebih ringan dinamakan penguatan perhatian. Pada level itu orang
hanya sekedar lebih peka terhadap informasi produk.
Pada level selanjutnya,orang itu
mungkin masuk ke pencarian informasi secara aktif : mencari bahan bacaan,
menelepon teman dan mengunjungi toko untuk mempelajari produk tertentu. Sumber
informasi konsumen digolongkan kedalam empat kelompok :
v Sumber
pribadi : keluarga, kenalan, tetangga,teman.
v Sumber
komersial : iklan, wiraniaga, penyalur, kemasan, pajangan ditoko.
v Sumber
publik : media massa, organisasi penentu peringkat konsumen.
v Sumber
pengalaman : pengalaman, pengkajian, dan pemakaian produk.
c. Evaluasi
alternative
Terdapat
beberapa proses evaluasi keputusan dan model-model yang terbaru memandang
proses evaluasi konsumen sebagai proses yang berorientasi kognitif, yaitu model
tersebut menganggap konsumen membentuk penilaian atas produk dengan sangat
sadar dan rasional.
Beberapa
konsep dasar akan membantu kita memahami proses evaluasi konsumen: pertama,
konsumen berusaha memenuhi kebutuhan. Kedua, konsumen memandang masing-masing
produk sebagai sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam
memberikan manfaat yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan itu.
Para
konsumen memiliki sikap yang berbeda-beda dalam memandang berbagai atribut yang
dianggap relevan dan penting. Mereka akan memberikan perhatian terbesar pada
atribut yang memberikan manfaat yang dicarinya.
d. Keputusan
pembelian
Dalam
tahap evaluasi, para konsumen membentuk prefensi atas merek-merek yang ada
didalam kumpulan pilihan. Konsumen tersebut juga dapat membentuk niat untuk
membeli merek yang paling disukai. Terdapat dua faktor yang mempengaruhi
keputusan pembelian konsumen yaitu, faktor pertama adalah sikap orang lain.
Sejauh mana sikap orang lain mengurangi
alternatif yang disukai seorang akan bergantung pada dua hal: (1) intensitas
sikap negatif orang lain terhadapa alternatif yang disukai konsumen dan (2)
motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain. Semakin gencar sikap
negatif orang lain dan semakin dekat orang lain tersebut dengan konsumen,
konsumen akan semakin terantisipasi yang dapat muncul dan mengubah niat
pembeliannya. Faktor kedua adalah faktor situasi yang tidak terantisipasi yang
dapat muncul dan mengubah niat pembelian, seperti : harga yang diharapkan dan manfaat
yang diharapkan.
e. Perilaku
paska pembelian
Setelah
membeli produk, konsumen akan mengalami level kepuasan atau ketidakpuasan
tertentu. Kepuasan dan ketidakpuasan terhadap produk akan mempengaruhi perilaku
konsumen selanjutnya. Jika konsumen tersebut puas, ia akan menunjukan
kemungkinan yang lebih tinggi untuk membeli kembali produk tersebut.
Tahap-tahap
proses pengambilan keputusan pembelian diatas menunjukan bahwa para konsumen
harus melalui lima urutan tahap ketika membeli produk, namun tidak selalu
begitu. Para konsumen dapat melewati atau membalik beberapa tahap.
|
Pengenalan
masalah
|
|
Evaluasi
alternatif
|
|
Pencarian
informasi
|
|
Keputusan
pembelian
|
|
Perilaku
pasca pembelian
|
Gambar 1.1 Proses Keputusan Pembelian
Sumber :Kotler
(2005:233)
2.5.3 Jenis- jenis
perilaku keputusan pembelian
Kotler
dan amstrong (2008:177) membagi jenis-jenis keputusan pembelian menjadi empat,
antaralain :
a. Perilaku
pembelian kompleks (complex buying
behavior) yaitu pembelian konsumen dalam situasi yang di tentukan oleh
keterlibatan konsumen yang tinggi dalam pembelian dan perbedaan yang dianggap
signifikan antar merek. Konsumen mungkin sangat terlibat ketika produk itu
mahal, beresiko, jarang dibeli, dan sangat memperlihatkan expresi diri. Umumnya
,konsumen harus mempelajari banyak hal tentang kategori produk. Pembeli ini
akan melewati proses pembelajaran, mula-mula ia akan menggambarkan keyakinan,
tentang produk, lalu sikap dan kemudian membuat pilihan yang dipikirkan
masak-masak. Pemasar produk dalam hal ini harus memahami pengumpulan informasi
dan perilaku evaluasi yang di perlukan yang di lakukan konsumen dengan ketelibatan
yang tinggi. Para pemasar perlu membantu untuk mempelajari atribut produk dan
kepentingan atribut relatif atribut tersebut.
b. Perilaku
pembelian pengurangan disonasi (dissonance
reducing buying behavior) yaitu perilaku pembelian konsumen dalam situasi
yang mempunyai karakter keterlibatan tinggi tetapi hanya ada sedikit angapan
perbedaan antar merek. Terjadi ketika konsumen sangat terlibat dalam pembelian
yang mahal, jarang dilakukan atau beresiko, tetap hanya melihat sedikit
perbedaan merek.
c. Perilaku
pembelian kebiasaan (habitual buying
behavior) yaitu perilaku pembelian konsumen dalam situasi yang mempunyai
karakter keterlibatan konsumen rendah dan anggapan perbedaan merek sedikit.
Terjadi dala perbedaan keterlibatan konsumen yang rendah dan sedikit perbedaan
merek. Konsumen tampaknya memiliki keterlibatan rendah dengan sebagian besar
produk yang sering dibeli. Dalam kasus ini, perilaku konsumen tidak melawati
urutan keyakinan sikap perilaku yang biasa. Konsumen tidak secara ekstensif
mencari informasi tentang merek, mengevaluasi karakteristik merek dan
mempertimbangkan keputusan tentang merek mana yang akan dibeli. Karena pembeli
tidak mempunyai komitmen tinggi terhadap merek apapun, pemasar produk
keterlibatan rendah dengan sedikit perbedaan merek yang menggukan promosi harga
dan penjualan untik merangsang percobaan produk.
d. Perilaku
pembelian mencari keragaman (variety-seeking
buying behavior) yaitu perilaku pembelia konsumen yang mempunyai karakter
keterlibatan yang rendah tetapi dengan angapan perbedaan merek yang signifikan.
Dalam kasus semacam ini, konsumen relatif melakukan penggantian merek. Strategi
pemasaran mungkin berbeda untuk pemimpin pasar dan merek kecil. Pemimpin pasar
akan mencoba mendorong perilaku pembelian kebiasaan dengan mendominasi ruang
rak, membuat rak tetap penuh dan menjalankan iklan untuk mengingatkan konsumen
sesering mungkin. Perusahaan penantang akan mendorong pencarian keragaman
dengan menawarkan harga yang lebih murah, kesepakatan khusus, kupun, sampel
gratis, dan iklan yang menampilka alasan untuk mencoba sesuatu yang baru.
2.6 Kualitas produk
Produk
memiliki arti penting bagi perusahaan karena tanpa adanya produk, perusahaan
tidak akan dapat melakukan apapun dari usahanya. Pembeli akan membeli produk
kalau merasa cocok, karena itu produk harus disesuaikan dengan keinginan
ataupun kebutuhan pembeli agar pemasaran produk berhasil. Dengan kata lain,
pembuatan produk lebih baik diorientasikan pada keinginan pasar atau selera
konsumen.
Mc
Charty dan Perreault (2003:107) mengemukakan bahwa, “Produk merupakan hasil
dari produksi yang akan dilempar kepada konsumen untuk didistribusikan dan
dimanfaatkan konsumen untuk memenuhi kebutuhannya”. Sedangkan
menurut Saladin (2002:121), ”Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan
ke suatu pasar untuk diperhatikan, dimiliki, dipakai atau dikonsumsi sehingga
dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan”.
Menurut Kotler
(2005:49), “Kualitas produk adalah keseluruhan ciri serta dari suatu produk
atau pelayanan pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan/
tersirat”. Sedangkan menurut Lupiyoadi (2001:158)
menyatakan bahwa “ Konsumen akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka
menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas “.
2.6.1 Atribut Produk
Menurut
Kotler dan Armstrong (2001:354) beberapa atribut yang menyertai dan
melengkapi produk (karakteristik atribut produk) adalah:
a. Merek
(Brand)
Merek
(Brand) adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau
rancangan, atau kombinasi dari semua ini yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi
produk atau jasa dari satu atau kelompok penjual dan membedakannya dari
produk pesaing. Pemberian merek merupakan masalah pokok dalam strategi
produk. Pemberian merek itu mahal dan memakan waktu, serta dapat membuat
produk itu berhasil atau gagal. Nama merek yang baik dapat menambah
keberhasilan yang besar
pada produk (Kotler dan Armstrong, 2001:360)
b. Pengemasan
(Packing)
Pengemasan(Packing) adalah kegiatan merancang dan membuat wadah atau pembungkus suatu produk.
c. Kualitas
Produk (Product Quality)
Kualitas
Produk (Product Quality) adalah kemampuan suatu produk
untuk melaksanakan fungsinya meliputi, daya tahan keandalan,
ketepatan kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai
lainnya. Untuk meningkatkan kualitas produk perusahaan dapat
menerapkan program ”Total Quality Manajemen (TQM)".
untuk melaksanakan fungsinya meliputi, daya tahan keandalan,
ketepatan kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai
lainnya. Untuk meningkatkan kualitas produk perusahaan dapat
menerapkan program ”Total Quality Manajemen (TQM)".
2.6.2 Klasifikasi Produk
Menurut
Kotler dan Armstrong (2001:280) klasifikasi produk dibagi menjadi dua bagian,
yaitu :
a. Barang
Konsumen
Barang
konsumen yaitu barang yang dikonsumsi untuk kepentingan konsumen akhir sendiri,
bukan untuk tujuan bisnis. Umumnya barang konsumsi dapat diklasifikasikan
menjadi empat jenis, yaitu :
1) Barang
kebutuhan sehari-hari (Convience Goods)
adalah barang-barang yang biasanya sering dibeli konsumen (memiliki frekuensi
pembelian tinggi), dibutuhkan dalam waktu segera, dan memerlukan waktu yang
minim dalam pembandingan dan pembeliannya.
2) Barang
belanjaan (Shopping Goods) adalah
barang-barang yang karakteristiknya dibandingkan dengan berbagai alternatif
yang tersedia oleh konsumen berdasarkan kesesuaian, kualitas, harga, dan daya
dalam proses pemilihan dan pembeliannya.
3) Barang
khusus (Speciality Goods) adalah
barang-barang dengan karakteristik dan atau identifikasi yang unik, yang
untuknya sekelompok pembeli yang cukup besar bersedia senantiasa melakukan
usaha khusus untuk pembeliannya.
4)
Barang yang tidak dicari (Unsought Goods)
adalah barang-barang yang tidak diketahui konsumen atau walau sudah diketahui
namun secara umum konsumen belum terpikir untuk membelinya.
b.
Barang Industri
Barang
industri adalah barang-barang yang dikonsumsi oleh industriawan (konsumen
antara atau konsumen bisnis) untuk keperluan selain konsumsi langsung, yaitu :
untuk diubah, diproduksi menjadi barang lain kemudian dijual kembali oleh
produsen, untuk dijual kembali oleh pedagang tanpa dilakukan transformasi fisik
(proses produksi).
BAB
III
Metode Penelitian
3.1 Metode Yang
Digunakan
Metode
penelitian kuantitatif dalam penelitian ini adalah metode penelitian
ekspalanasi. Menurut faisal, objek telah penelitian eksplanasi (eksplanatory research) adalah untuk
menguji hubungan antar variabel yang di hipotesiskan, pada jenis penelitian ini
, jelas ada hipotesis yang akan diuji kebenerannya, hipotesis itu sendiri
menggambarkan hubungan antara dua atau lebih variabel, untuk mengetahui apakah
suatu variabel berasosiasi atau tidak dengan variabel lainnya, atau apakah
suatu variabel disebabkan atau dipegaruhi ataukah tidak oleh variabel lainnya.
Metode penelitian survey eksplanatory juga bisa
didefinisikan sebagai peneitian survey yang digunakan untuk menjelaskn hubungan
kausal dan pengujian. Penelitian ini mempunyai dua sifat , yang pertama ialah
deskriptif, yaitu suatu metode yang menyajikan gambaran secara
terstruktur,factual, akurat, tentang fakta-fakta, sifat , serta hubungan antara
variabel yang diteliti. Kedua, penelitian ini juga bersifat verifikatif yaitu
metode yang bertujuan untuk menguji secara sistematis dugaan mengenai adanya
hubuga antara variabel dan masalah yang sedang diselidiki didalam hipotesis
(singarimbun:2000).
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
penelitian
Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh warga perumahan indogreen citeureup. Yang
menggunakan tas merek kesukaan khususnya merek deuter dan eiger.
3.3 Metode Pengumpulan
Data
Data
yang digunakan adalah data primer . menurut Umar (2001) data primer adalah data
yang diperoleh dari sumber pertama baik dari individu atau perseorangan dari
hasil wawancara pengisian kuesioner atau tanda bukti pembelian barang. Dari
uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa data primer merupakan data yang
diperoleh langsung dari konsumen berupa jawaban atas pertanyaan yang diajukan
oleh peneliti dalam bentuk wawancara dan kuesioner. Kuesioner dengan bentuk
pertanyaan tertutup, yaitu kuesioner yang menyajikan pertanyaan dengan pilihan
jawabannya. Data primer dalam penelitian ini meliputi tanggapan responden
(pengguna tas bermerk) sehubungan dengan keputusan pembelian tas merek local
dan impor.
3.4 Variabel Penelitian
Variabel
penelitian adalah objek penelitian , atau apa yang menjadi titik perhatian
suatu penelitian (Arikunto, 2002). Dalam penelitia ini terdapat tiga variabel
bebas (X) dan satu variabel terikat (Y).
1. Variabel
bebas / independent variabel (x)
Yaitu variabel yang
berhubungan atau dipengaruhi dengan variabel lain atau yang diselidiki
hubungannya dan pengaruhnya.yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini
adalah : Kualitas Produk (X1), Harga
(X2), dan Citra Merek (X3).
2. Variabel
terikat / dependent variabel (Y)
Variabel terikat adalah
gejala atau unsur variabel yang dipengaruhi variabel lain . yang menjadi
variabel terikat dari penelitian ini adalah keputusan pembelian
3.5 Teknik Pengukuran
Variabel
Alat
yang digunakan untuk mengumpulkan data primer dalam penelitian ini adalah
kuesioner. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala likert. Skala
ini berinterasi 1-5 dengan pilihan jawaban sebagai berikut :
·
(1) Sangat Tidak Setuju
(STS)
·
(2) Tidak Setuju (TS)
·
(3) Cukup Setuju (CS)
·
(4) Setuju (S)
·
(5) Sangat Setuju (ST)
Pemberian
skor untuk mimpor-mimpor jawaban dalam kuesioner adalah sebagai berikut :
·
Pilihan pertama,
memiliki nilai skor 1 (satu)
·
Pilihan kedua, memiliki
nilai skor 2 (dua)
·
Pilihan ketiga,
memiliki nilai skor 3 (tiga)
·
Pilihan keempat,
memiliki nilai skor 4 (empat)
·
Pilihan kelima,
memiliki nilai skor 5 (lima)
3.6 Hasil Uji
Instrument Penelitian
3.6.1 Uji Validitas
Untuk mengetahui bagaimana validitas
dari setiap pertanyaan dalam angket digunakan validitas butir instrument, yaitu
pengecekan yang dilakukan pada setiap butir pertanyaan yang ditulis dalam
kuesioer. Pengecekan dilakukan dengan menggunakan alat bantu software SPSS 20.
3.6.2 Uji Reliabilitasi
Setelah dilakukan uji validitas,
Rehabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya,
maksudnya apabila dalam beberapa pelaksana pengukuran terhadap kelompok yang
sama diperoleh hasil yang relative sama (Azwar,2000). Reliabilitas juga
merupakan ukuran suatu kesetabilan dan konsistensi reponden dalam menjawab hal
– hal yang berkaitan dengan konstruk- konstruk pertanyaan yang merupakan
dimensi suatu variabel dan di susun dalam suatu bentuk kuesioner. Reliabilitas
yang tinggi dalam mengukur variabel laten. Tingkat reliabilitas dengan metode
alpha-cronbach diukur berdasarkan skala 0 sampai 1. Menurut Triton P.B (2006)
apabila skala tersebut dikelompokan kedalam lima kelas dengan range yang sama.
Maka ukuran alpha dapat diinterprestasikan seperti table berikut :
Tabel 1
Tingkat Reliabilitas Berdasarkan Nilai Alpha
|
3.7 Alat Analisis
3.7.1 Analisis Faktor
Pada
awalnya teknik analisis faktor dikembangkan pada awal abad ke-20. Teknik
analisis ini dikembangkan dalam bidang psikometrik atas usaha akhil statistikaw
karl pearson dan lainnya untuk mendefinisikan dan mengukur intelegensia
seseorang.
Pada
analisis factor (factor analysis)
dapat dibagi menjadi dua macam yaitu analisis komponen utama dan analisis
faktor. Kedua analisis diatas bertujuan menerangkan struktur ragam – peragaman melalui kombinasi
linear dari variabel- variabel pembentuknya. Sehingga dapat dikatakan bahwa
factor atau komponen adalah variabel bentukan bukan variabel asli. Secara umum
analisis faktor atau analisis komponen utama bertujuan untuk mereduksi dan
menginterprestasikannya sebagai variabel baru yang berupa variabel bentukan.
3.7.2 Analisis Regresi
Linier Berganda
Analisis
regresi linier berganda merupakan hubungan secara linier antara dua variabel
atau lebih variabel independen (X1,X2,X3,X4,…Xn)
dengan variabel dependen Y.analisis
untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independent dengan variabel dependen
apakah mipor – mipor variabel Independen berhubungan
positif atau negatif dan untuk
memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau
penurunan. Data yang digunakan biasanya berskala interval atau rasio.
Persamaan
regresi linear berganda sebagai berikut :
Y
= a + b1X1 + b2X2 + … + bn Xn
Keterangan
:
Y : Variabel dependen
X1
dan X2 : Variabel independen
a : Konstanta
3.7.3 Analisis Korelasi
Ganda (R)
Analisis ini digunakan untuk
mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel independen (X1,X2,X3)
terhadap variabel dependen (Y) secara serentak. Koefisien ini menunjukan
seberapa besar hubungan yang terjadi antara variabel independen (X1,X2,X3)
secara serentak terhadap (Y). Nilai R berkisar antara 0 samai 1, nilai semakin
mendekati 1 berarti berhubung yang terjadi semakin kuat, sebaliknya nilai
semakin mendekati 0 maka hubungan yang terjadi semakin lemah. Menurut Sugiyono
(2007) pedoman untuk memberikan interprestasi koefisien korelasi sebgai berikut
:
0,00 – 0,199 = Sangat Rendah
0,20– 0,399 = Rendah
0,40
– 0,599 = Sedang
0,60
- 0,799 = Kuat
0,80
– 1,000 = Sangat Kuat
3.7.4 Analisis
Determinasi (Adjusted R2)
Analisis determinasi dalam regresi
linear berganda digunakan untuk mengetahui persentasi sumbangan pengaruh
variabel independen (X1,X2,X3) secara
serentak terhadap variabel dependen (Y). Koefisien ini menunjukan seberapa
besar persentase variasi variabel independen
yang digunakan dalam model mampu menjelaskan variasi variabael dependen. Adjusted R2 sama dengan 0,
maka tidak ada sedikitpun persentase pengaruh yang diberikan variabel independen terhadap variabel dependen, atau variasi variabel yang
digunakan dalam model tidak menjelaskan sedikitpun variasi variabel dependen.
Sebaliknya Adjusted R2 sama dengan 1, maka persentasenya pengaruh
yang diberikan variabel independen terhadap variabel dependen adalah sempurna
atau 100%.
3.7.5 Pengujian Hipotesis
3.7.5.1 Uji F
Untuk membuktikan kebenaran hipotesa
secara keseluruhan (bersama) digunakan uji F, yaitu untuk mengetahui pengaruh
variabel – variabel bebas yang terdapat di dalam model secara bersama – bersama
terhadap variabel terikat.
Dengan
Hipotesis :
Ho
: β = 0 artinya, tidak ada pengaruh antara variabel independen secara bersama – sama terhadap variabel dependen.
Ha
: β = 0 artinya, ada pengaruh antara variabel independen secara bersama – sama terhadap variabel dependen.
Dengan
tingkat signifikasi (α) yang ada digunakan adalah 5%, distribusi F dengan
derajat kebebasan (α ; K -1 , n-K). Kreteria pengujian:
Fhitung
< Ftabel = Ho diterima, artinya variabel independen secara atau bersama – sama tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
Fhitung
> Ftabel = Ho ditolak, artinya variabel independen secara atau bersama – sama mempengaruhi variabel
dependen secara signifikan.
3.7.5.2 Uji T
Pengujian secara
individual (uji-t) yaitu pengujian koefisien regresi secara parsial dengan
menetukan formula stastistikyang akan diuji, dengan hipotesa :
Ho
: b1 = 0, artinya tidak ada pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen.
Ha
: b1 = 0, artinya ada pengaruh antara
variabel independen terhadap variabel
dependen.
Dengan tingkat signifikan (α) 5%
dart df = n-K-1 diperoleh nilai T table kemudian nilai T table dibandingkan
dengan nilai thitung yang diperoleh. Dengan membandingkan kedua
nilai T tersebut, maka akan diketahui pengaruhnya,yaitu dapat diterima atau
ditolaknya hipotesis.
Kriteria
pengujian :
thitung <
ttabel = Ho ditolak dan Ha diterima, artinya variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
thitung
<
ttabel = Ho diterima dan Ha ditolak, artinya variabel
independen tidak mempengaruhi
variabel dependen secara signifikan.
Nama : Agni Bhuwono S
Npm : 10212331
Kelas : 3EA04
Tidak ada komentar:
Posting Komentar